Teropong by Novem 8-D, Di Smp Negeri 3 Porong ada salah satu murid yang terkenal dengan kebaikan nya ia kini menduduki di bangku kelas 9 ia bernama Maharani Tirta Paramita.
Proses perjalanan Maharani Tirta Paramita sampai bisa berada di titik ini sebagai Ketua OSIS, sebenarnya semuanya berawal dari kelas 7, ketika saat itu Maharani dipercaya menjadi Wakil Ketua OSIS.
Sejak awal masuk sekolah, Maharani memang punya keinginan untuk menjadi siswa yang aktif. Maharani ingin selama masa sekolah, saya bisa berada di organisasi yang baik, yang berguna, bermanfaat, dan tentunya bisa menjalankan tugas dengan sebaik mungkin. Waktu itu Maharani berpikir, kalau Maharani sudah masuk ke dalam sebuah organisasi, berarti Maharani juga harus bisa memberikan sesuatu untuk organisasi tersebut.
Tapi ternyata, pengalaman Maharani di kelas 7 tidak sepenuhnya seperti yang dia bayangkan. Ada beberapa hal dalam kepengurusan yang menurut Maharani masih kurang baik. Ada hal-hal yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, baik dari sisi kepemimpinan, cara menjalankan organisasi, maupun budaya yang ada di dalamnya. Dan tentu saja, hal itu juga membuat beberapa pihak kecewa, termasuk guru. Sampai akhirnya, citra atau branding OSIS di mata banyak orang menjadi kurang baik.
Dari situ Maharani mulai belajar satu hal. Maharani sadar bahwa mengkritik keadaan itu jauh lebih mudah daripada mencoba memperbaikinya. Maharani bisa saja hanya mengatakan, "Organisasinya kurang baik," tapi ia merasa kalau dirinya memang peduli, Maharani harus berani mencoba melakukan sesuatu.
Akhirnya, Maharani memberanikan diri untuk mencalonkan diri sebagai Ketua OSIS. Dan ketika Maharani akhirnya dipercaya menjadi ketua, saya merasa bahwa kepercayaan itu bukan sekadar jabatan. Ada tanggung jawab yang jauh lebih besar di belakangnya.
Maharani mulai dari hal-hal yang menurut dirinya paling dasar, yaitu membenahi organisasi dari dalam. Bukan hanya tentang membuat program kerja sebanyak-banyaknya, tetapi bagaimana cara kami memimpin, bagaimana mental anggota, bagaimana mereka punya rasa peka terhadap keadaan, punya inisiatif, bertanggung jawab, disiplin, dan yang paling penting, punya rasa memiliki terhadap organisasi.
Maharani ingin anggota OSIS tidak hanya menjadi orang yang menunggu perintah atau sekadar menjadi pelaksana tugas. Maharani ingin mereka bisa berpikir, berinisiatif, berani menyampaikan pendapat, dan merasa bahwa OSIS ini juga bagian dari mereka.
Pelan-pelan, kami mulai menjalankan berbagai kegiatan. Mulai dari Hari Pahlawan, Hari Guru, Class Meeting, kegiatan bagi-bagi takjil, Agustusan, sampai berbagai inovasi lain yang kami coba jalankan. Kami juga berusaha meningkatkan ekonomi organisasi melalui kegiatan jualan, supaya organisasi tidak hanya berjalan dari program, tetapi juga bisa belajar bagaimana mengelola sesuatu secara mandiri.
Di sisi lain, Maharani juga ingin OSIS punya identitas dan tempat untuk menunjukkan apa yang kami kerjakan. Karena itu, Maharani berusaha mengembangkan media sosial organisasi, termasuk TikTok @osissmpn3porong_ dan mengaktifkan kembali Instagram @osisspentrip. Bagi Maharani, media sosial bukan hanya tempat untuk mengunggah dokumentasi, tetapi juga menjadi salah satu cara untuk menunjukkan bahwa OSIS punya kegiatan, punya karya, dan punya perkembangan.
Tapi tentunya, semua perubahan itu tidak terjadi dalam satu malam. Ada banyak proses di belakangnya. Ada kegiatan yang tidak berjalan sesuai rencana, ada kesalahan, evaluasi, konflik, rasa capek, tekanan, bahkan ada saat-saat ketika Maharani sendiri merasa mempertanyakan apakah saya sanggup menjalankan semuanya.
Maharani juga sadar, selama menjadi ketua, dirinya pasti masih banyak kurangnya. Maharani masih belajar bagaimana menjadi pemimpin yang bisa tegas tanpa kehilangan rasa peduli, bagaimana mengambil keputusan tanpa selalu takut salah, dan bagaimana membawa banyak orang dengan karakter yang berbeda-beda.
Dan justru dari situlah Maharani semakin memahami arti kepemimpinan.
Bagi Maharani, pencapaian terbesar selama menjadi Ketua OSIS bukan hanya ketika sebuah event berhasil, program kerja terlaksana, atau kegiatan mendapatkan respons yang baik. Yang paling membuat Maharani merasa bahwa perjalanan ini berarti adalah ketika Maharani melihat anggota nya merasa nyaman, berkembang, mendapatkan pengalaman baru, dan merasa puas selama menjalani proses bersama dirinya.
Karena pada akhirnya, Maharani tidak ingin hanya dikenal sebagai seseorang yang pernah menjadi Ketua OSIS. Maharani ingin ketika masa kepengurusan ini selesai, ada sesuatu yang tertinggal. Bukan hanya nama dirinya, tetapi perubahan, pengalaman, budaya yang lebih baik, dan orang-orang yang mungkin menjadi lebih percaya diri karena pernah tumbuh bersama organisasi ini.
Itu juga yang sejak awal ingin Maharani bawa melalui visi nya, yaitu meningkatkan mutu SMPN 3 Porong sekaligus membentuk siswa yang harmonis, enerjik, berintegritas, aktif, dan tangguh melalui kepemimpinan OSIS yang inspiratif, kreatif, dan bertanggung jawab.
Jadi kalau saya ditanya apa arti perjalanan ini bagi Maharani, mungkin jawabannya bukan tentang bagaimana dia bisa sampai menjadi ketua. Tapi tentang bagaimana Maharani menggunakan kesempatan ketika sudah dipercaya menjadi ketua.
Karena menurut Maharani, menjadi pemimpin itu bukan sekadar memiliki jabatan atau berada di posisi paling depan. Pemimpin adalah seseorang yang mau bertanggung jawab ketika keadaan tidak mudah, mau belajar ketika melakukan kesalahan, dan mau membangun orang-orang di sekitarnya.
Maharani mungkin belum menjadi pemimpin yang sempurna, dan Maharani rasa dirinya masih akan terus belajar. Tapi Maharani percaya, ukuran seorang pemimpin bukan seberapa lama dia memegang jabatan, melainkan seberapa besar perubahan baik yang bisa dia tinggalkan setelah masa kepemimpinannya selesai.
Karena jabatan pada akhirnya akan selesai, tetapi perubahan yang kita tinggalkan dan orang-orang yang pernah kita bantu untuk tumbuh, itulah yang akan tetap tinggal.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!